Rabu, 13 Mei 2009

Pengetahuan Dan Makrifat Dalam Irfan

Intuisi Mistikal;

Satu-Satunya Jalan Menggapai Pengetahuan


Aliran-aliran yang beragam dalam dunia Sufisme atau Irfan memiliki kesatuan pandangan dalam permasalahan yang esensial dan substansial ini dimana mereka menyatakan bahwa pencapaian dan penggapaian hakikat segala sesuatu hanya dengan metode intuisi mistikal dan penitian jalan-jalan pensucian jiwa, bukan dengan penalaran dan argumentasi rasional, karena hakikat suatu makrifat dan pengatahuan adalah menyelami dan meraih hakikat segala sesuatu lewat jalur penyingkapan, penyaksian, intuisi hati, manifestasi-manifestasi batin, dan penyaksian alam metafisika atau alam nonmateri dengan mata batin serta penyatuan dengannya.


Dengan ungkapan lain, yang lebih mendasar dan fundamental dalam hakikat pengetahuan dan makrifat adalah pensucian jiwa dan tazkiyah hati, dan bukan dengan analisa pikiran dan demonstrasi rasional.[1] Para urafa dan sufi beranggapan bahwa segala makrifat dan pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih sesuai dengan kebenaran daripada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal. Mereka menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasi-Nya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate) dan intuitif dengan hakikat tunggal alam (baca: Sang Pencipta) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci,lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah.


Makrifat, syuhud, dan pengetahuan dalam istilah Tasawuf dan Irfan adalah penyaksiaan hakikat-hakikat dengan mata batin dan hati setelah melewati tingkatan-tingkatan pensucian jiwa dan telah sampai pada kualitas-kualitas kejiwaan yang konstan. Pengetahuan intuitif dan irfani adalah sejenis pengetahuan yang bersumber dari hati (qalb, heart), pensucian, dan tazkiyah jiwa; atau suatu bentuk pengetahuan yang tak berdasarkan pada empirisitas, indrawi, akal, pikiran, dan argumentasi rasional, melainkan bersumber dari mata air sair suluk, menapaki jalan-jalan spiritual, tahzib dan tazkiyah jiwa, dan penjernihan hati. Pengetahuan seperti ini tidak dapat disamakan dengan pengetahuan hushuli yang bersumber dari suatu konsepsi-konsepsi rasional, melainkan suatu pengetahuan syuhudi, intuisi, immediate (langsung), kehadiran, dan hudhuri.


Sadruddin Qunawi menyatakan, “Jalan-jalanya ahli Irfan dan Tasawuf adalah mencapai, mengetahui, dan menyaksikan segala sesuatu dengan intuisi, musyahadah, dan mukasyafah, walaupun hal-hal yang diketahuinya itu tidak dapat diargumentasikan secara rasional dan tak bisa dibuktikan dengan penalaran akal-pikiran.”[2] Menurutnya, segala bentuk makrifat dan pengetahuan itu hanya dihasilkan dari jalur syuhud, intuisi, dan “menyatu” dengan realitas yang tertinggi dan suci (baca: Tuhan) serta pengalaman internal. Dengan dasar ini, para filosof murni telah dipandang larut dalam wacana-wacana pikiran dan konsepsi akal yang tidak secara murni dan hakiki mengungkapkan apa hakikat-hakikat yang sebenarnya. Para filosof, dengan metodologi rasional, tidak bisa menampakkan hakikat-hakikat segala sesuatu dan bahkan telah terhijabi dengan metode-metodenya sendiri sedemikian sehingga tidak mampu lagi menyaksikan realitas-realitas sebagaimana mestinya.


Pengetahuan jenis ini, menurut Al-Gazali, merupakan ilmu mukasyafah dan batin, ia mengungkapkan, “Pengetahuan ini adalah bersumber dari suatu cahaya yang terpancar dan termanifestasikan ke hati yang telah tersucikan dari segala bentuk sifat-sifat tak terpuji dan tercela. Dari tajalli dan manifestasi inilah akan terwujud begitu banyak intuisi dan mukasyafah. Segala perkara yang diketahuinya dengan tidak jelas dan kabur akan menjadi hal yang sangat nyata, jelas, dan jernih setelah dia mendapatkan pengetahuan hakiki tersebut.[3]


Dalam risalah Qusyairiyyah tertera ungkapan yang berbunyi, “Hati adalah wadah bagi makrifat-makrifat, dan akal adalah rukun dan tiang makrifat, akan tetapi, akal telah terhijabi, lemah, dan tidak dapat menjangkau pengetahuan terhadap hakikat-hakikat segala sesuatu… dan pengetahuan intuisi ini akan lahir ketika langit hati telah menjadi jernih dan terang serta menerima pancaran “cahaya matahari” dari wilayah suci yang paling tinggi dan mulia.”[4]


Kesatuan Perspektif Para Arif Mengenai Pengetahuan Intuisi


Jalaluddin Hamayi membagi aliran-aliran penting tasawuf itu menjadi tiga bagian dan beranggapan bahwa perbedaan mendasar aliran-aliran tersebut berada dalam tahapan-tahapan perjalanan spiritual (seir wa suluk), adab-adab, dan tradisi-tradisi, “Tasawuf Islam memiliki aliran-aliran dan silsilah-silsilah yang beragam dimana setiap aliran tasawuf mempunyai kekhususan dalam akidah, adab, tradisi, dan syiar-syiar yang menjadikannya berbeda satu dengan lainnya. Namun, secara umum kita bisa membagi seluruh aliran tasawuf menjadi dua bagian: Pertama, ahli zuhud, riyadhah, ibadah, zikir, dan pikir; Kedua, ahli wajd, hal, raqsh, dan sima’. Sebagai contoh, kita bisa katakan bahwa aliran Naqsyabandiyah tergolong bagian pertama dan Qadiriyah termasuk bagian kedua, dan kedua aliran tersebut ini banyak dijumpai di negara Iran . Aliran Naqsyabandiyah biasa disebut sebagai Sufi dan aliran Qadiriyah sering dinamakan Darwis. Sementara aliran tasawuf Maulawi adalah suatu aliran yang mengumpulkan semua karakteristik dari kedua aliran tersebut, Naqsyabandiyah dan Qadiriyah.[5]


AKan tetapi, semua aliran-aliran itu tidak meragukan bahwa segala pengatahuan diperoleh lewat jalur musyahadah, mukasyafah dan penyingkapan hati yang kesemuanya dipengaruhi oleh bentuk riyadhah dan pelaksanaan amalan-amalan sunnah (nawafil). Begitu pula mereka berkeyakinan bahwa tidak ada ilmu dan pengetahuan yang lebih tinggi selain dari pengetahuan intuitif dan irfani. Akan dikatakan, “Maulawi dan aliran lain tasawuf beranggapan bahwa segala pengetahuan rasional dan pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh lewat proses belajar dan mengajar adalah bukan ilmu dan pengetahuan hakiki. Mereka menyamakan pengetahuan tersebut dengan seni-seni, keterampilan, dan pengetahuan sosial. Seluruh petunjuk dan perhatian aliran ini mengarah kepada pengetahuan intuitif, ainul yaqin, ilmu hati, dan ilmu laduni yang bersumber dari pencerahan kejiwaan, kesucian hati, kekuatan ruh, mukasyafah, musyahadah hati, sair dan suluk, dan riyadhah. Pengetahuan ini juga berbeda dengan ‘ilmul yaqin (pengetahuan yang berpijak pada pendekatan rasional dan demontrasi filosofis). Kaum urafa dan para sufi berkeyakinan bahwa seseorang yang mata hatinya terbuka dan mendapatkan pencerahan jiwa serta menemukan harta karun yang nilainya tak terbatas itu (akal yang tercerahkan dan pengetahuan intuitif), maka dia tidak lagi membutuhkan ribuan kitab, merujuk pada perpustakaan, bersabar dalam penderitaan menuntut ilmu, dan tidak lagi menganggap bernilai segala pengetahuan hushuli.”[6]


Berkaitan dengan makrifat tasawuf dan irfani, Doktor Abdul Husain mengatakan, “Pengetahuan tasawuf adalah pengetahuan intuitif dan syuhudi. Para sufi dan urafa memandang segala sesuatu dan kondisi-kondisi alam dengan pengetahuan tersebut. Tolok ukur kebenarannya adalah penyerahan total hati dan bukan pembenaran akal. Mukasyafah dan musyahadah serta ilham-ilham emanatif lebih diterima daripada argumentasi, burhan, demontrasi rasional, dan metode deduksi dan induksi. Mereka mengenal kebenaran dan menafikan segala bentuk keraguan serta keheranan dengan upaya pencerahan jiwa dan pensucian hati, menolak segala bentuk burhan dan argumentasi sempit akal. Akan tetapi, pencapaian kondisi yang demikian ini membutuhkan riyadhah dan suluk spiritual, dan tanpa meniti dan menapaki jalan ini, mustahil hati dan jiwa manusia bisa menerima pancaran cahaya-cahaya suci Ilahi yang dengannya dia dapat menyingkap hakikat-hakikat segala sesuatu. Oleh karena itu, seseorang yang telah berhasil mencapai maqam dan derajat suci ini niscaya akan memandang bahwa pengetahuan intuitif dan irfani jauh lebih pasti dan benar daripada pengetahuan yang diperoleh secara argumentasi akal dan demontrasi rasional. Dari dimensi ini, para sufi tidak berupaya menetapkan eksistensi Tuhan, akan tetapi dengan berusaha “merasakan” dan “menyingkap” eksistensi-Nya.”[7]


Untuk lebih jelasnya permasalahan ini, alangkah baiknya kita mengutip pandangan-pandangan para urafa dan sufi.


Pandangan Para Urafa Mengenai Pengetahuan Irfani


1. Syaikh Isyraq


Syaikh Isyraq tidak menganggap bahwa pengetahuan intuitif itu mendahului pengetahuan rasional, dan mukadimah pengetahuan intuitif adalah pensucian dan pencerahan jiwa dimana merupakan pendahuluan pembahasan rasional yakni ilmu logika. Menurutnya, dengan keberadaan ilmu logika itu dimana tertutup jalan untuk mengetahui sesuatu dengan metode intuisi, maka ilmu tersebut bisa digunakan, walaupun tidak secara mutlak. Dia dalam hal ini menyatakan, “Apabila sesuatu tidak diketahui dan hal itu tetap tidak dipahami walaupun dengan metode mengingatkan dan memberikan pengertian kepada subjek serta tertutup jalan untuk memahaminya dengan metode intuisi, sebagaimana yang dialami oleh para filosof, maka dalam hal ini tak terdapat cara lain kecuali mengurutkan dan menyusun perkara-perkara yang diketahui untuk dipakai menyingkap perkara-perkara yang belum dipahami.”[8] Dari ungkapan dan penjelasan Syaikh Isyraq tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kebutuhan terhadap ilmu logika dalam keadaan ketiadaan kemungkinan menggunakan metode intuisi (kasyf wa syuhud). Oleh karena itu, di akhir kitabnya, Hikmah al-Isyraq, dia berkata, “Sebelum memulai mempelajari kitab ini harus menjalani riyadhah dan pensucian jiwa selama empat puluh hari…”[9]


Di tempat lain dia menyatakan, “Walaupun sebelum menulis kitab ini, Hikmah al-Isyraq, saya telah menyusun suatu risalah kecil yang berhubungan dengan filsafat Aristoteles, akan tetapi kitab ini berbeda dengan risalah tersebut dan mempunyai metodenya sendiri yang khusus. Semua kajiannya tidak diperoleh dari jalur pemikiran dan argumentasi rasional, melainkan dicapai dengan metode intuisi dan menjalani amal-amal kezuhudan. Pandangan-pandangan kami yang tidak digapai lewat jalur argumentasi-argumentasi rasional, bahkan dicapai dengan metode mukasyafah dan musyahadah, tidak dapat diragukan dan dibatalkan oleh para peragu dan pengiritik.”[10]


Dawud bin Mahmud Qaishary menyatakan bahwa makrifat dan pengetahuan intuitif itu adalah mengetahui makna-makna gaib dan perkara-perkara hakiki yang berada dibalik hijab lahiriah dengan pengetahuan tertinggi (haqqul yaqin) atau pengetahuan menengah (ainul yaqin).[11]


2. Muhyiddin ‘Arabi


Muhyiddin dalam Fushushul Hikam menyatakan, “Makrifat dan pengetahuan intuitif ini tidak dijangkau oleh akal dan argumentasi rasional, melainkan dengan mukasyafah Ilahiah.”[12]


Menurut Ibnu Arabi, akal tak bisa mengetahui dan memahami hakikat-hakikat segala sesuatu yang metafisik dan perkara-perkara yang berhubungan dengannya. Manusia dapat mencapai makrifat dan pengetahuan intuitif hanya dengan perantaraan mukasyafah dan musyahadah serta hadirnya manisfestasi intuitif dalam hati yang berbentuk tunggal (bashit) namun meliputi semua hakikat-hakikat segala sesuatu. Dalam pandangannya, makrifat dan pengetahuan itu merupakan realitas yang bersifat nonmateri yang teremanasi dan termanifestasikan dari nama-nama Tuhan dalam jiwa dan hati manusia. Ibnu Arabi beranggapan bahwa asas dan pondasi dari segala eksistensi dan keberadaan adalah manifestasi dan tajalli, segala maujud merupakan manifestasi dari cahaya-cahaya gaib Ilahi dalan wilayah makrifat-Nya. Dari makrifat dan ilmu Tuhan ini terpancar eksistensi dan maujud di alam penciptaan, oleh karena itu, makrifat pada dasarnya adalah emanasi Tuhan.


Di tempat lain dia mengungkapkan, “Akal hanya menerima makrifat dan pengetahuan, bukan menggapainya. Sebagaian ilmu dan makrifat itu bisa dijangkau lewat argumentasi rasional, namun sebagian besar makrifat dan pengetahuan tidak dapat dihasilkan dengan demontrasi rasional, melainkan didapatkan dengan hati dan intuisi, karena terdapat pengetahuan-pengetahuan yang sangat dimungkinkan dan diyakini keberadaannya oleh akal, akan tetapi tidak mampu dicapai oleh pikiran itu sendiri. Oleh karena itu, akal tidak mempunyai batasan dari sisi penerimaan pengetahuan-penngetahuan yang diyakini, walaupun pengetahuan tersebut tidak dapat dipahami dan dijabarkan oleh pikiran. Pikiran hanya bisa menangkap objek-objek fisik dan pengetahuan kepada hakikat-hakikat alam dan metafisika hanya diperoleh dari jalur mukasyafah dan wahyu Ilahi. Paling tingginya makrifat adalah pengetahuan terhadap Tuhan yang tidak dihasilkan dengan akal, karena akal tidak dapat menjangkau dan mempersepsi Tuhan itu. Akal manusia hanya bisa memahami dan mengetahui sesuatu yang mempunyai kesamaan dari aspek spesies, genus, atau esensi. Tuhan hanya dijangkau dan dicapai dengan intuisi, mukasyafah, musyahadah, dan wahyu serta hati,”[13]


Dia berkeyakinan bahwa makrifat intuitif dan hakiki hanya dapat dicapai dengan amal-amal shaleh, takwa, dan menapaki jalan-jalan kebenaran, hal ini berbeda dengan pengetahuan yang dihasilkan dari metode argumentasi rasional yang sarat dengan berbagai kritikan, keraguan, dan kontradiksi.[14] Lebih lanjut dia juga menyatakan, “Dengan termanifestasinya cahaya-cahaya Ilahi pada hati manusia maka akan tersingkap segala hijab yang menghalangi pandangan batin manusia. Dengan demikian, alam gaib dan alam malakuti akan hadir dan terungkap baginya, bahkan alam materi itu sendiri akan nampak dan muncul dalam “warna” yang lain.”[15]


3. Mulla Husain Kasyani


Mulla Husain Kasyani menyatakan, “Makrifat dan syuhud serta segala sesuatu diliputi oleh Al-Haq (Tuhan) secara esensial. Allah berfirman: Dan apakah Tuhan-mu tidak cukup (bagimu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?[16]. Karena seorang salik telah sampai pada maqam ketuhanan tersebut (sebagaimana firman-Nya) maka dia senantiasa “menyaksikan” cahaya-cahaya gaib dan hakikat-hakikat segala sesuatu.”[17]


4. Allamah Hasan Zadeh Amuly

Beliau mengungkapkan bahwa karena seorang salik telah terlepas dari segala kesibukan dunia, telah mensucikan jiwanya dari segala sifat buruk, menyempurnakan dirinya dengan suluk dan riyadhah syariat serta argumentasi akal, dan telah mengkondisikan dirinya untuk menerima rahmat Tuhan, maka ia layak sebagaimana firman-Nya: Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu (kekuatan) pembeda (antara yang hak dan yang batil di dalam hatimu)[18].”[19]


5. Allamah Muhammad Taqi Ja’fary


Muhammad Taqi Ja’fary menuliskan tentang persepsi dan pengenalan intuitif (syuhudi) sebagai berikut, “Maksud dari pengetahuan dan makrifat intuitif adalah hubungan langsung jiwa dengan realitas yang bukan fisik dan nonrasional… Secara hakiki syuhud adalah penyaksian internal dengan pencahayaan khusus terhadap suatu realitas dimana cahaya dan penyaksiaannya lebih kuat dan terang daripada penglihatan indrawi dan pengenalan rasional. Dan dengan memandang kondisi-kondisi jiwa yang beragam dalam hubungannya dengan realitas-realitas hakiki, maka keberadaan bentuk penyaksian seperti itu tidak dapat diingkari dan ditolak. Pengenalan dan penyaksiaan intuitif ini lebih banyak hadir dalam bentuk seperti mimpi-mimpi benar dan dalam keadaan fana daripada dalam keadaan alami.”[20]


Mengenai pengenalan emanatif dia menyatakan, “Pengenalan emanatif (isyraqi) adalah emanasi dan pancaran realitas hakiki atas pikiran manusia tanpa membutuhkan pendahuluan-pendahuluan yang bersifat indrawi dan pemikiran-pemikiran yang telah terkonstruksi padanya sebelumnya…Isyraqi atau emanasi adalah suatu bentuk pencerahan pemikiran seperti pencahayaan fisikal yang menerangi dan memberikan cahaya kepada benda-benda fisik. Bahkan lebih dari itu, pencerahan terhadap pikiran tersebut yang dalam bentuk emanasi sama seperti hukum-hukum cahaya, yakni akan juga terpancar bersama dengan pencerahan dan pencahayaan itu sendiri, sebagai contoh: pengenalan realitas alam eksistensi dimana akan menghadirkan makna “kebesaran”, “keluasan”, dan “keuniversalan” itu. Bentuk pengenalan seperti ini adalah bersifat emanatif dimana lebih tinggi dari segala pengenalan indrawi dan pemikiran-pemikiran filsafat serta kalam, yang walaupun semua pengenalan indrawi dan filsafat serta kalam mengenai alam eksistensi tersebut bisa dipandang merupakan pengkondisian dan pendahuluan untuk menerima emanasi Ilahi. Begitu pula seseorang yang mendapatkan perasaan bahwa setiap partikular dari alam eksistensi ini mencitrakan dan menyuarakan keuniversalan, maka perasaan tersebut dikategorikan sebagai perasaan emanatif.”[21]


Lebih lanjut dia mengutarakan perbedaan antara pengenalan intuitif dan pengenalan emanatif, “Faktor-faktor yang menghadirkan pengenalan dan pengetahuan intuitif adalah sama dengan yang mewujudkan makrifat-makrifat emanatif, perbedaan di antara keduanya hanya terletak pada subjek dan ranahnya, yakni subjek yang dicahayai dan dicerahkan oleh pengetahuan intuitif tidak akan keluar dari subjek tersebut, hanya subjek tertentu yang menjadi fokus musyahadah dan mukasyafah, hal ini sebagaimana satu objek fisik yang menjadi subjek suatu pengkajian dan observasi.”[22]


Dia kemudian mendefinisikan pengetahuan intuitif sebagai berikut, “Pengetahuan dan makrifat intuitif adalah pengetahuan kepada alam dengan segala partikular-partikular dan hubungan-hubungannya, seperti suatu hakikat yang nampak sangat jelas dan terang sedemikian sehingga setiap bagian merupakan penjelmaan dari realitas dan maujud universal yang abadi dan kekal, serta segala bentuk hubungan ilmiah dengan partikular-partikular tersebut adalah berhubungan dengan maujud yang maha sempurna dengan perantaraan manifestasi-manifestasinya. Membicarakan mengenai bentuk pengenalan dan pengetahuan seperti ini tidak dengan orang yang tidak meyakini keberadaannya dan tidak pula dengan orang yang sama sekali tidak mempersiapkan dirinya untuk menggapai pengetahuan jenis ini, karena kalau hal itu dilakukan sama dengan membicarakan kelezatan berhubungan dengan lawan jenis dengan anak-anak yang belum balig dimana sama sekali tidak akan bisa memahami dan mengetahui apa-apa yang dibicarakan itu serta mereka akan menyatakan bahwa pembicaraan dan ungkapan tersebut tidak lain hanyalah hayalan belaka dan kemudian akan menjadi bahan-bahan permainan dan canda mereka saja.”[23]


6. Ayatullah Jawady Amuly


Berhubungan dengan pengetahuan intuitif, Ayatullah Jawady menyatakan bahwa seseorang yang mempunyai pengetahuan dan makrifat intuitif dapat menyaksikan hakikat-hakikat dengan mata batin dan bisa pula mendengar kalimat-kalimat yang tidak mampu disaksikan dan didengarkan oleh orang lain. Sebagaimana orang lain dapat merasakan panasnya api dan mendengarkan suara-suara yang beragam serta mengenal semua pemilik suara-suara tersebut dan makna-makna yang berhubungan dengannya, begitu pula orang-orang yang mempunyai bentuk pengenalan intuitif dapat “menyaksikan” segala sesuatu yang berbeda dan perkara-perkara yang beragam serta “mendengarkan” suara-suara yang bermacam-macam dengan tanpa sedikitpun keraguan dan kebimbangan. Keadaan dan kondisi yang dicapai oleh orang-orang seperti ini, pertama-tama akan dialaminya di alam mimpi yakni dia senantiasa mendapatkan dan menyaksikan mimpi-mimpi yang benar dan nyata berkaitan dengan hakikat-hakikat di masa lampau, sekarang, dan akan datang atau berhubungan dengan kejadian-kejadian yang bertempat jauh dan dekat. Semua peristiwa-peristiwa tersebut dia saksikan dan dengarkan dengan mata dan telinga batin.


Yang pasti bahwa mata dan telinga tersebut yang dapat menyaksikan dan mendengarkan hakikat-hakikat seperti itu tidak secara khusus berhubungan dengan manusia yang sementara tidur, seseorang yang dalam keadaan terbangun pun tidak akan dapat melihat sesuatu yang bertempat sangat jauh itu atau mencium bau dari sesuatu tersebut. Nabi Ya’qub As dapat melihat dan mencium baju Nabi Yusus As yang berada sangat jauh di luar kota Mesir saat itu, sebagaimana tertera dalam al-Quran surah Yusuf ayat 94 yang berbunyi, Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal”


Bentuk perasaan seperti tersebut di atas tidak secara khusus hanya dialami oleh Nabi Ya’qub As saja, melainkan juga sama dengan apa-apa yang didengar dan dialami oleh Al-Hur di Karbala atau suatu panggilan yang didengar oleh Imam Husain As di tengah perjalanan menuju Karbala.


Penglihatan-penglihatan dan pendengaran-pendengaran yang terjadi dan dialami oleh para nabi, rasul, dan orang-orang saleh itu sama sekali tidak berhubungan dengan keadaan tidur, melainkan semua orang yang berupaya membersihkan dan mensucikan hatinya dari segala bentuk kekotoran dan mencapai tingkatan spiritual tertentu niscaya akan mengalami kenyataan-kenyataan tersebut serta mendapatkan pengetahuan-pengetahuan intuitif yang dengannya dia mengenal hakikat alam semesta. Akan tetapi, karena di awal perjalanan spiritual, ruh dan jiwa manusia masih dalam keadaan yang lemah, dengan demikian indera-indera lahiriahnya dan kesibukan-kesibukan fisiknya senantiasa menggangu dan menghalangi terwujudnya penglihatan-penglihatan dan pendengaran-pendengaran batinnya. Oleh karena itu, dalam keadaaan dia tidur dimana dengan terputusnya segala kesibukan dan gangguan fisikal, maka akan tercipta suatu kondisi yang sangat sesuai untuk dia memulai perjalanan internalnya dan pengaktualan kesempurnaan-kesempurnaan batinya, yaitu menyaksikan dan mendengarkan hakikat-hakikat segala sesuatu dalam mimpi. Apabila semua kesibukan fisikal dan halangan alami tidak lagi efektif menghambat pengelanaan spiritual seseorang, maka apa-apa yang benar dan hakiki yang dia saksikan dan dengarkan di alam mimpinya itu niscaya dia juga akan saksikan dan dengarkan dalam keadaan tidak tidur dan terbangun.[24] [wisdoms4all.com]


[1] . Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Fushushul Hikam, Syarh Janady, hal. 8.

[2] . Abdullah Fatimi Niya, Farjam-e ‘Isyq, hal. 77.

[3] . Muhammad Al-Gazali, Ihya al-’Ulum, jilid pertama, hal. 297.

[4] . Risalah Qusyairiyyah, hal. 117 dan 118, penerjemah: Furuzanfur.

[5] . Jalaluddin Hamayi, Maulawi Nameh, jilid pertama, hal. 593. Dan Abdul Husain Zarin Kub, Arzesy-e Mirats-e Sufiyah.

[6] . Ibid, hal. 537 dan 538. Dan Ta’liqah Abul ‘ Ala ‘ ‘Afifi ‘ Ala Fushusul Hikam, Fatihatul Kitab, hal 3.

[7] . Abdul Husain Zarin Kub, Arzesy-e Mirats-e Sufiyah, hal. 100.

[8] . Sihabuddin Suhrawardi, Syarh Hikmah al-Isyraq, hal. 50-52.

[9] . Ibid, hal. 561.

[10] . Rujuk: Mukadimah Hikmah al-Isyraq. Dan Husain Nashr, Seh Hakim Musalmon, penerjemah: Ahmad Orom, hal. 85. Serta Gulam Muhsin Ibrahimi Dinani, Syu’a-e Andisye waSyuhud dar Falsafe-ye Suhrawardi.

[11] . Dawud Qaishary, Muqaddame-ye Fushushul Hikam, hal. 22.

[12] . Muhyiddin ‘Arabi, Fushushul Hikam, Fash Adam, hal. 69.

[13] . Muhyiddin ‘Arabi, mukadimah Futuhat Makiyyah, dan risalah Al-Washaya dari kumpulan risalah-risalah Ibnu ‘Arabi.

[14] . Ibid, jilid kedua, hal. 298.

[15] . Ibid, jilid pertama, hal 166 dan jilid kedua, hal. 637.

[16] . Qs. Fushshilat: 53.

[17] . Mulla Husain Kasyani, Lub Libab Matsnawi, hal. 393.

[18] . Qs. Al-Anfal: 29.

[19] . Hasan Hasan Zadeh, Hezar wa Yek Nukteh, nukteh 229.

[20] . Muhammad Taqi Ja’fary, Syarh-e wa Tafsir-e Nahjul Balaghah, jilid ketujuh, hal. 81-82.

[21] . Ibid, hal. 83.

[22] . Ibid, Syenokht az Didgoh-e ‘Ilmy wa az Ddgoh-e Quran, hal. 189.

[23] . Ibid, hal. 233. Begitu pula rujuk, Tafsir wa Naqd wa Tahlil Matsnawi, jilid kelima belas.

[24] . Abdullah Jawady Amuly, Syenokh Syenosy dar Quran, hal. 407-409.


Sumber:

http://www.isyraq.wordpress.com/2007/09/08/esensi-pengetahuan-dan-makrifat-dalam-irfan/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar